Senin, 16 Oktober 2017

Sejarah Kawruh Condro Sengkolo 3 ( Sejarah Dhuwojo )

DHUWOJO  CONDRO SENGKOLO
"Sejarah  Serta Makna Tersimpan Dari Lambang Condro Sengkolo"



Lambang Condro Sengkolo


Sebagaimana kita ketahui lambang dari Brayat Ageng Condro Sengkolo adalah seperti yang ada diatas ini dan apabila kita perdalam lebih lanjut dari lambang tersebut tersimpan sejarah dan makna yang terpendam yang memiliki arti sangat mendalam. Adapun sejarah dan makna dari perlambang tersebut akan kita sampaikan sebagai berikut :

1. Sejarah Dhuwaja ( Perlambang ) 

Awal mula perlambang ini muncul kala terjadinya peristiwa Geger Kaladuta atau masa kerajaan Metaram dibawah kekuasaan Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo yang merasa tidak suka akan kehadiran VOC belanda yang mencampuri terlalu dalam urusan keraton hingga beliau mengirimkan pasukan tempur untuk menyerbu kedudukan Belanda di Beteng Batavia. Seperti uraian terdahulu sebagaimana kita ketahui cucu dari Panembahan Condro Sengkolo 1 atau Begawan Tirto Wening  yang bernama Raden Mas Anom Wiro Negoro yang nantinya diangkat menjadi Panglima perang kraton Metaram dan juga diangkat menjadi Pepatih Njawi atau Bupati Monco Negoro bergelar Gusti Patih Jayaningrat juga didaulat untuk maju perang ke Batavia bersama Panglima Agung Kanjeng Tumenggung Bahurekso adipati Kendal, Kanjeng Tumenggung alap-alap dan juga Kanjeng Tumenggung Suro Agul-agul juga diperkuat oleh tumenggung Rajeg Wesi  bupati Indramayu dengan pasukanya laskar Tadah Nyawa. Gusti Patih Jayaningrat juga membawa prajurit segelar sepapan yang terdiri dari para kawula Sambipitu yang ikut ngayon di perdikan Wonocangkring yang sudah dibabar menjadi tanah perkampungan yang subur saat ini bernama Cangkringan dan sebagian besar dilatih menjadi prajurit penderek Gusti Patih yang diberi nama laskar Ardha Dedali dengan lambang dhuwaja alatu bendera rontek berbentuk seperti lambang Condro Sengkolo yang waktu itu disebut Dhuwojo Gagak Pitho yang gambarnya menjadi inspirasi untuk lambang Condro sengkolo sekarang ini. Nama laskar Ardha Dedali diambil dari nama dedanyang di sendang Ardha Dedhali Sambipitu juga nama dari pusaka andalan beliau berupa Gembung Garuda bernama Ardha Dedali. 



Replika Pusaka Gembung Ardha Dedali

Dikisahkan Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo sukses menghancurkan Batavia pada ekspedisi Kala Duta pertama. Misi ini berhasil berkat taktik para panglima Metaram dengan cara membendung kali Ciliwung sehingga suplai air di benteng Baravia menipis hingga terjadi wabah desentri dan kolera hingga banyak menewaskan  para warganya dan para serdadu VOC Belanda hingga benteng Batavia bisa diduduki. Bala bantuan Belanda datang dari arah Anyer dan akhirnya setelah bisa dikuasai beberapa bulan benteng pertahanan Belanda di Batavia berhasil direbut kembali oleh VOC Belanda dan pasukan metaran kembali ke Jawa Tengah kembali menyusun kekuatan. 

Namun halnya dengan ekspedisi Kala Duta ke dua terjadi kegagalan telak bagi pihak metaram. Prajurit Metaram banyak yang gugur kerana kurangnya suplai logistik dengan dibakarnya lumbung-lumbung pangan yang dibangun di sepanjang jalan yang dilakukan oleh antek-antek para bupati Brang Kulon atau wilayah Pasundan yang menjadi pengkhianat memihak pada VOC  Belanda. Kegagalan misi ini sangat mengecewakan Kanjeng Sultan Agung Hanyakra Kusuma hingga banyak para senopati yang pulang ke Metaram dengan membawa kegagalan dijatuhi kukuman mati hingga banyak prajurit Metaram yang  memilih tidak kembali ke Metaram dan menetap di posisi mereka berada. 

Hal yang demikian menjadikan Gusti Patih Jayaningrat menjadi bingung harus menentukan sikap. Ingin kembali sowan ke Metaram takut mendapat hukuman mati dari Kanjeng Sultan dan apabila tidak sowan dianggap membangkang dan berniat memberontak. Dari pikiran yang kacau balau, rasa cinta pada negeri dan sangat membenci penjajah Belanda juga pengkhianatan para bupati brang kulon, ditambah rasa takut akan pidana yang akan diterima sehingga membuat pikiran beliau menjadi goncang dan akhirnya terganggu jiwanya. Hal yang demikian sangat mengkhawatirkan kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo atas keselamatan warganya dan karena diketahui Gusti Patih Jayaningrat sangat sakti hingga tidak ada yang berani menasehati apalagi meringkus beliau untuk disowanake ke Metaram. 

Mengetahui hal yang demikian, Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo kemudian mengutus Kiyai Wono Salam abdi beliau untuk menghadapi Gusti Patih Jayaningrat karena Ki Wono Salam adalah murid dari Begawan Tirto Wening yang masih satu garis keilmuan dari Gusti Patih Jayaningrat. Akhirnya bertemulah Ki Wono Salam dan Gusti Patih Jayaningrat dan mulailah ki Wono Salam memberikan nasehat pada Gusti Patih Jayaningrat untuk segera sowan ke Metaram dan dijamin tidak akan mendapat hukuman pidana dan diajak kembali mengabdi untuk kemakmuran bumi Metaram. Namun halnya dengan Gusti Patih Jayaningrat yang sudah terganggu pikiranya tidak terima akan nasehat tersebut dan malah menantang ki Wono Salam untuk beradu kesaktian hingga tak bisa dielakkan lagi terjadilah peperangan adu kesaktian antara dua pewaris Condro Sengkolo hingga ramai dan berlangsung lama sekitar sembilan hari. Masing-masing sama-sama memiliki kesaktian yang tinggi hingga di suatu tempat masing-masing menggunakan aji triwikrama berubah menjadi gajah dan bertarung menggunakan senjata gading. Serang menyerang dan saling menangkis dengan senjata gading atau gajah yang gading gadingan hingga tempat tersebut saat ini diberi nama dusun Gadingan. 


Dusun Gadingan Masa Sekarang

Pertarungan terus berlangsung hingga Ki Wono Salam sedikit kerepotan menghadapi kesaktian Gusti Patih Jayaningrat hingga menjadi kurang waspada hingga beliau kalah menahan serangan dan patahlah satu gadingnya atau diistilahkan sempal gadinge dan saat sekarang tempat dimana gading yang sempal tersebut diberi nama dusun Palgading. 

Merasa berada diatas angin Gusti Patih Jayaningrat trembeh bersemangat dalam bertarung dan karena pikiran yang sudah terganggu tanpa sadar beliau malah sesumbar dan membuka rahasia kelemahanya sendiri. Dengan tertawa tawa beliau menantang semua kawula Metaram dengan  berkata ' Heh koe kabeh kawulo Mentaram, Ayoh tandingono iki Jayaningrat... mengertiyo heh yen mung wlahare Gunung Merapi kang biso anglebur jagadku". Mendengar perkataan Gusti Patih Jayaningrat tersebut yang tanpa sengaja membuka rahasia kelemahanya, Ki Wono Salam segera utusan abdi untuk matur ke kanjeng Sulta Agung Hanyokro Kusumo . kanjeng Sultan Agung  Hanyokro Kusumo segera mangsah semadi menemui pepundenya Kanjeng Ratu Kidul dan segera mengutarakan maksudnya untuk bisa mengatasi Gusti patih Jayaningrat dengan mengutarakan rahasia kelahanya. Mendengar permohonan dari Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo, Kanjeng Ratu Kidul sang penguwasa Laut Selatan segera memanggil Kiyai Sapu Jagat penguwasa Gunung Merapi yang dulu merupakan pepatihnya di Kedaton Kidul untuk segera mengeluarkan wlaharnya untuk menaklukkan Gusti Patih Jayaningrat demi keselamatan kawulo di Metaram. 

Akhirnya wlahar gunung merapi keluar juga dari puncaknya atas titah dari Kanjeng Ratu Kidul dan mengalir ke bawah arah Gusti Patih Jayaningrat dan Ki Wonosalam sedang bertarung. Mengetahui akan datangnya wlahar dari puncak merapi dan mengarah kepadanya, Gusti Patih Jayaningrat segera beranjak untuk meninggalkan tempat itu tetapi dengan cepat Ki Wonosalam yang sedari tadi sudah mendekati kekalahan dengan sisa-sisa tenaga terakhir memegangi  ( Ngendoli ) kaki dari Gusti Patih Jayaningrat hingga beliau tidak bisa beranjak sadi situ. Merasa kakinya digendoli ki Wono Salam dan kesulitan kala akan menghindari turunya Wlahar membuat Gusti Patih Jayaningrat ngipatake atau melemparkan ki Wonosalam ke arah barat dan setelah terlepas lalu berusaha menghindar dari wlahar, namun terlambat karena wlahar sudah terlanjur menggulung beliau beserta kawulanya hingga lebur ditelan bumi. Tempat dimana ki Wonosalam nggendoli kaki dari Gusti Patih Jayaningrat saat sekarang dinamakan dengan nama kali Nggendol.

Cungkup Makam Gusti Patih Jayaningrat


Akan halnya ki Wono Salam yang terlempar ke barat dan jatuh di barat kali Kuning pas mengenai watu kemloso dan menyebabkan beliau Ki Wono Salam meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Untuk waktu sekarang tempat dimana Ki Wono Salam gugur dan dimakamkan diberi nama Dusun Wono Salam.

Dengan berakhirnya pertempuran adu kesaktian antara Gusti Patih Jayaningrat dengan Ki Wono Salam dengan gugurnya kedua tokoh tersebut berakhir pula masa kejayaan Laskar Ardha Dedali dengan Duwojo Gagak Pito yang menjadi kebanggaan pada masa itu.  Bangkit lagi pada masa Perang jawa atau Perang Diponegoro yang kisahnya akan kita post pada post berikutnya....

Kamis, 12 Oktober 2017

Kegiatane Para Warga Paguyuban

Nuwun sewu sakderengipun bilih samangke Krama Inggil kawula bade kawula jabel kaandapaken mring tataran kramantara ing pangajab sakelangkung gampil pun mangertosi kanthi mboten angirangi pakurmatan kawula dumateng andhika sedaya.

Kaya kang wus kita mangerteni kabeh ngenani "Paguyuban Ngesti Aji Beteng Mataram Waris Dhalem Condro Sengkolo" kang wus kacetho ing nduwur, tamtu kita wus bisa pikantuk gambaran kaya ngapa anane paklumpukan mau kang wus kasebut anane kumpulane para warga kang anunggal kareb angudhi kasampurnaning ngaurip kanthi bebarengan anglampahna lampah tirakat bebarengan kanggo anggayuh apa kang dadi pangidam-idamaning urip kanthi angolah raos sacara lair lan batin. Ewadene kanggo tuntunaning lampah wus kalampah migunaake tatacara kang kawarisake saka Kawruh Pangertosan Waris Dhalem Condro Sengkolo.  Dhene para warga kang maklempak banjur sesarengan tukar kawruh lan saka asiling tukar kawruh kasebut banjur kaimpun dumadi satunggaling paugeran kanggo tatacaraneng panggolahing rahsa batos kang linandesan mring Kawruh Pangertosan  Waris Dhalem Condro Sengkolo. Lampahing para warga paguyuban ing antaranne :

1. Pakumpulan saha melekan ing malem jum'at.


                                         
2. Tirakat soho Adus Kramas Jinabat Papat


3. Mbekteni Pepunden saha leluwur





4. Wejangan saha jamasan anggota anyar




 

5.  Yaroh Pepunden 






6. Mburu Pusaka (Janglod 1,2,3 )








Sejatine isih akeh kegiatane para warga Brayat Condro Sengkolo, ananging amung setitik ingkang bisa takaturake jalaran ora kabeh kegiatan didokumentasekake.



Rabu, 11 Oktober 2017

Sejarah Kawruh Condro Sengkolo 2 (Silsilah)

Dengan terus berjalanya waktu, kawruh kautaman yang dibawa dan disebarkan oleh Beliau Panembahan Condro Sengkolo1 atau Sang Begawan Tirta Wening terus berkembang hingga banyak sekali warga dari Sambipitu bahlan dari luar Sambipitu yang ikut menganut Laku Kautaman yang diajarkan Beliau. Dari tiga orang murid Kanjeng sunan Kalijaga yang dalam waktu bersamaan diIslamkan dan diajarkan ilmu Agama oleh Kanjeng Sunan Kalijaga hanya beliaulah sang Begawan Tirta Wening yang mengembangkan dan mengamalkan ilmunya untuk sesama. Dua murid lainya yaitu Pangeran Ariyo Herbandang atau nama sepuhnya bergelar Kiyai Senggot hanya sedikit menyebarkan ilmu dan pengaruhnya di daerah Temanggung dan makamya ada di Candirata Temanggung, sedangkan seorang lagi yang bernama Resi Gagak Handaka atau neme sepuhnya Ki Ageng Sarpawana tidak begitu banyak berkiprah dalam dakwah dan makamya ada di daerah Tambakrejo Ngaglik Sleman. 

Panembahan Condro Sengkolo atau Begawan Tiro Wening memiliki putra tunggal dari istri bernama Raden Ayu Tulak Bronto bernama Raden Mas Brojo Guno atau dengan nama sepuh Panembahan Kiyai Joko. Selama mengajarkan kawruh kautaman di Sambipitu beliau memiliki empat orang murid utama yang tertuwa bernama Pangeran Jaya Sentika atau dengan nama sepuh Kiyai Wono Salam, yang kedua Mas Bei Djarot Adimanggolo atau dengan nama sepuh Kiyai Ageng Bagelen, yang ketiga Raden Bagus Menot dengan nama sepuh Kiyai Trenggiling  Braja, sedangjan yang terakhir bernama Raden Sambara atau dengan nama sepuh Tumenggung Rajeg Wesi.  Kiyai Wonosalam mengabdi di kerajaan Metaram sebagai Abdi Dhalem Kanca Kaji atau Pamethakan dan tidak menyebarkan kawruh Condro Sengkolo. Kiyai Ageng Bagelen menetap di daerah Bagelem Purwarejo dan beliau sedikit mengajarkan kawruh Condro Sengkolo hingga saat ini masih ada sedikit penganut di daerah Purworejo yang dipangarsani Bapak Hadi Siswaya di Mbayan. Kiyai Trenggiling Braja menetap di Daerah Kaliwungu Kendal dan tidak mengajarkan kawruh Condro Sengkolo dan beliau dimakamkan di Kalibiru Kendal. Yang terakhir Raden Sambara atau dengan nama sepuh Tumenggung Rajeg Wesi mengabdi di Kraton Metaram sebagai Adipati Sabrang Elor menguwasai daerah Cirebon dan Indramayu dan sangat terkenal kesaktianya dengan menguwasai pusaka Cemeti bernama Cemeti Amal Rashuli dan sebagai wakil Adipati Kendal Gusti Adipati Bahureksa. 

 Putra Begawan Tirta Wening yang bernama Penembahan Kiyai Joko menikah dengan Raden Ayu Galuh Ambar Wati putra adipati Bahurekso Kendal dan dikaruniai enam orang putra hanya satu yang laki-laki bernama Raden Mas Anom Wiro Negoro dan sebagai penerus Condro Sengkolo beliau juga sangat terkenal kesaktianya dengan mewarisi Pusaka Gembung Arda Dedali milik sang kakek Begawan Tirto Wening. Beliau juga memiliki pusaka keris pusaka bernama Kiyai Gotro berdapur Kolonadah luk lima yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Setelah dewasa beliau mengabdi di Metaram dan karena kesaktianya beliau diangkat menjadi senopati bahkan oleh Kanjeng Sultan Agung Hanyokro Kusumo beliau diberikan pangkat kedudukan sebagai Pepatih Njawi dan diberikan kalenggahan berupa tanah perdikan di Wono Cangkring yang ppada masa sekarang lebih dikenal sebagai wilayah Cangkringan kabupaten Sleman. Sebagai Pepatih Njawi beliau mendapatkan gelar Kanjeng Gusti Patih Jayaningrat dan makam beliau di dusun Gadingan Argomulya Cangkringan. Untuk tokoh yang satu ini ada kisah menarik yang nantinya akan kita haturkan dalam pembahasan sejarah perkembangan Condro Sengkolo.

Gusti Patih Jayaningrat


Gusti Patih Jayaningrat menikah dengan Ni Gusti Cokorda Ayu Laksita Dewi putri dari bangsawan bali dan dikaruniai sebelas orang putra dan hanya satu yang mewarisi Kawruh Condro Sengkolo yaitu putranya yang bernama Pangeran Ariyo Wirobumi yang juga masih keturunan wong sekti dan juga mengabdi di Metaram dan menjadi Senopati bergelar Tumenggung Banteng Metaram dan tinggal di  Saptosari Gunungkidul. 

Tumenggung Banteng Metaram menikah dengan Cut Shalamah Binti Muchammad Sholeh Ditiro putri dari ulama Aceh dan hanya memiliki seorang putra bernama Muchammad Ilyas Sidiq yang terlahir dalan kondisi cacat kaki yaitu lumpuh tidak bisa berjalan. Tetapi karena beliau masih darah keturunan Sambipitu, beliau juga memiliki kesaktian yang sangat tinggi. Pada masa itu meletuslah perang jawa dimana Pangeran Diponegoro berperang melawan Kompeni Belanda. Kiyai Ilyas Sidiq sebenarnya sangat ingin sekali ikut membantu berperang tetapi karena keadaan fisiknya yang tidak memungkinkan beliau akhirnya mendidik murid-muridnya sejumlah lima orang untuk menjadi senopati pendamping dari keponakan istri beliau yaitu Panglima Ali Basah Sentot Prawirodirjo. Kelima murid beliau yang pertama adalah Pangeran Muchammad Sadeli atau biasa dipanggil Mbah Sadli dari mentaram, yang kedua bernama Daeng Maradja Nagarai dari Bugis atau biasa dipanggil Mbah Lembu Peteng, yang ketiga adalah Raden Mas Nur Syahid dari Kartosuro biasa dipanggil Mbah Lembu Seto, yang keempat bernama Raden Mas Komarullah Dzaini dari Pamekasan Mdura biasa dipanggil Mbah Komar, yang terakhir Seikh Syarifudin Hidayatullah dari Pasai biasa dipanggil mbah Putih. Dari beliaulah Kawruh Condro Sengkolo berkembang pesat dan karena untuk menghidari kecurigaan Belanda beliau memakai nama Kanjeng Cipto Ranurumekto karena bila memakai nama Kiyai Muchammad Ilyas Sidiq bisa dicurigai belanda sebagai tempat pergerakan perlawanan melawan Belanda. Kenjeng Cipto Ranurumekto lenggah di Wonogiri sampai wafatnya dan disarekke di wonogiri.

 Panglima Alibasah Sentot Prawirodirjo

Kanjeng Cipto Ranurumekto menikah dengan Gusti Raden Ayu Retno Martuti Prawirodirjo cucu Pakubuono dari Solo bibi dari Pangloma Ali Basah Sentot Prawirodirjo dikaruniai dua orang putra dan salah satunya meneruskan Ajaran Kawruh Condro Sengkolo  bernama Pangeran Alit Ptawirodirjo dan ketika sepuh bernama Kiyai Abdul Wahab Prawirodirjo dan terus aktif melestarikan kawruh Condro Sengkolo.

Kiyai Abdul Wahab menikah dengan Raden Ayu Tejowati Kolopaking dari Banjarnegara masih cucu dari Adipati Kolopaking dan masih keturunan Kiyai Ageng Bagelen. Dari pernikahan tersebut dikaruniai delapan orang putra hanya satu orang yang laki-laki bernama Khasan Bushari Prawirodirjo Zen yang kelak memakai nama sepuh Mbah Khasan Bushari yang mewariskan Pangertosan Lampah Kautaman Condro Sengkola kepada saya dan masih saya pepundi sampai saat ini untuk bisa tetap lestari. 

Mbah Kiyai Khasan Bushari Prawirodirjo Zen

Mbah Khasan Bushari menikah dengan Raden Roro Mintarsih cucu dari Kiyai Subkhi Bahmawi dari Panggul Trenggalek Jawatimur dan dikaruniai empat oran putra tidak ada yang laki-laki sehingga Pangertosan turun temurun menurut garis darah putus sampai di sini dan hanya sayalah dari sekian banyak murid beliau yang masih setia menjaga dan melestarikan pangertosan ini walaupun saya tidak ada garis darah dari beliau tetapi minimal saya juga murut beliau. Mudah-mudahan tuhan selalu memberi kelancaran dalam saya melestarikan tinggalan beliau ini dan selalu memberi manfaat bagi sesama.

Minggu, 10 September 2017

Sejarah Kawruh Condro Sengkolo 1 (awal mula)

"Nuwun sewu atas permintaan beberapa warga yang kurang begitu paham Bahasa Jawa untuk itu  beberapa post kami sampaikan dalam Bahasa Indonesia, nuwun...



Kilas balik sejarah
 "Tuntunan Laku Kautaman" menurut           "Kawruh Condro Sengkolo"


Berawal dari sebuah pedusunan yang subur di lereng Gunung Merapi pada masa akhir kekuasaan kerajaan Majapahit dan awal berdirinya Kerajaan Demak Bintoro. Tersebutlah desa itu bernama Sambbi Pitu yang letaknya kurang lebih sekitaran wilayah Boyolali. Secara Giografis letak dusun tersebut jauh dari pusat Kerajaan Majapahit yang berada di Jawa Timur dan tentunya perkembangan peradaban keagamaan yang ada juga kurang terpengaruh oleh Kerajaan Majapahit yang saat itu sebagian besar warganya menganut Agama Hindu dan Budha. Masyarakat di sana sebagian besar petani dan hidup rukun dengan dipimpin oleh seorang pemuka adat juga seorang Begawan dengan banyak cantrik yang berguru di padepokanya. Pada masa itu pendidikan secara formal berupa sekolag seperti saat sekarang belumlah ada, jadi pendidikan disebarluaskan melalui padepokan-padepokan yang mengajarkan "laku Kautaman"  dan juga ilmu-ilmu untuk membetengi diri dalam mengarungi kehidupanya kelak. 

Gambaran wilayah Sambipitu
boyolali masa kini 

Tersebutlah sebuah nama sang pemimpin adat juga pemimpin wilayah perdikan Sambipitu bernama Begawan Tirto Wening yang kelak bergelar Panembahan Condro Sengkolo yang untuk pertama kalinya "Ambabar" kawruh kautaman berdasarkan tatacara Condro Sengkolo yang kita ugemi dan lestarikan sampai sekarang. Dikisahkan pada suatu hari seorang Waliyullah yang bergelar Panembahan Tapa Lelono yang sejatinya Kanjeng Sunan Kalijaga singgah ke desa Sambipitu dan memberikan pengajaran tuntunan pengibadaha yang benar kepada masyarakat disana khususnya pada Begawan Tirta Wening tentang Ilmu Agama Islam yang pada waktu itu memang sedang berkembang pesat dengan mulai berkembang pesatnya pengaruh budaya Islam seiring berkebangnya kerajaan Demak Bintara. Begawan Tirta wening sudah berhasil diIslamkan dan mendapat pengetahuan tentang tatacara ibadah dan hukum-hukum keIslaman dari sang Waliyullah dan hampir semua penduduk di Sambipitu telah memeluk agama Islam berkat bimbingan sang Wali dan dengan dukungan dari Begawan  Tirta Wening. 

Dengan berjalanya waktu  ternyata Panembahan Tapa Lelono atau Kanjeng Sunan Kalijaga tidaklah lama menetap di Sambipitu dikarenakan harus berpindah tempat lagi untuk terus menyebarkan Agama Islam sehingga ilmu atau pengetahuan tentang keIslaman yang diperoleh para kawula Sambipitu baru seujung kuku saja. Sebagaimana kita ketahui untuk mempelajari Ilmu Agama Islam bukanlan suatu hal yang mudah. Tuntunan, doa dan  amalan semuanya menggunakan bahasa dan tulisan Arab yang kalau kita pelajari secara serius pun tetap butuh waktu lama apalagi diajarkan secara kejar tayang seperti pada masa itu hingga menjadikan kebingungan diantara para kawula Sambipitu hingga bersandar kembali kepada sang Begawan Tirta Wening yang dirasa memiliki kebijaksanaan dan juga dianggap sebagai murid Panembahan Topo Lelono atau Kanjeng Sunan Kalijaga. Atas kegelisahan para kawula Sambipitu akhirnya sang Begawan memutuskan untuk maneges atau bersemedi mencari pencerahan dari Sang Pencipta guna mengatasi kegelisahan para kawula yang belum tau harus berbuat apa dalam melakukan panembah atau peribadahan karena sudah terlanjur diIslamkan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga.

Akhirnya Begawan Tirta wening berangkat bersemadi dengan berjalan ke arah barat mendaki lereng gunung Merapi hingga menemukan lokasi bersemadi berupa sebuah sendang dan oleh Begawan Tirta Wening dipakai untuk bersesuci dan menjalankan sembahyang sebisanya dan memutuskan untuk beristirahat disitu. Malam harinya dedanyang yang mbaureksa tempat itu merasa terusik keberadaanya dengan doa-doa dan peribadahan yang dilakukan sang Begawan Tirto Wening hingga sang dedanyang yang bernama "Dadung Mangrewo" berniat mencelakai sang Begawan dengan malih rupa menjadi garuda besar berbulu api terbang melayang-layang diatas sang begawan beristirahat.  Mengetahui ada danyang yang mengamuk sang Begawan segera dudk bersila menbaca amalan dan memohon keselamatan kepada Tuhan agar tidak mendapat celaka dari sang danyang yang mengamuk. Akhirnya siang malan sang Begawan beridiam dan bersemadi memohon petujuk Gusti sekalian menaklukkan sang dedanyang hingga sampailah pada hari yang keseratus tujuhbelas sang danyang menyerah dan takluk pada sang Begawan dan berubah wujud menjadi pusaka berupa gembung besi perunggu berbentuk Garuda yang diberi nama oleh sang Begawan bernama Ardha Dedali yang artinya Arda adalah api dedali adalah garuda atau singkatnya Garuda Api atau Garudha geni yang nantinya sebagai piandel bagi sang begawan dalam menyebarkan kawruh pangertosanya. Tempat dimana sang Begawan bersemedi yang berupa sendang sampai sekarang juga ditengeri dengan nama sendang Ardha Dedali sebagaimana nama pusaka yang diperoleh sang Begawan. Bersamaan dengan takluknya danyang "Dadung  Mangrewo" berakhir juga pertapaan sang begawan Tirto Wening dengan diperolehnya petunjuk mengenai lampah kautaman yang nantinya menjadi inti tuntunan kautaman untuk kita Brayat Ageng Condro Sengkolo.


Suasana Sendang Ardha Dedali


Sepulang dari bersemadi apa yang didapat dari perenunggan dan petunjuk dari Gusti Allah kemudian beliau sebarkan kepada para kawula Sambipitu dan dengan pola pikir yang sangat sederhana dan hingga terciptalah "Kawruh Pangertosan Kautaman " yang hingga saat ini masih kita pepetri sebagai "Ngilmu Bodo" dan masih kita laksanakan dalam kehidupan kita untuk anggayuh kasampurnan "Slamet Wilujeng Ing Ndonya lan Ngakherate"..

Kamis, 13 Juni 2013

Salam Pambuka Condro Sengkolo


Purwa  Madya  Wusana
Sun Waris Condro Sengkolo



Karahayon mugiya tansah kajiwa kasalira dumateng kita sedaya.

Kepareng kawula matur minangka satunggaling warga ingkang kapatah minangka pangesuhing warga paguyuban kanthi langkung rumiyin bade angaturaken menapa ta sejatosipun Paguyuban Ngesti Aji Beteng Mataram Waris Dhalem Condro Sengkolo. Kados ingkang sampun katur ing nginggil, warganing paguyuban sewaunipun dumados saking para kadhang ingkang nungil raos sami sami angudhi kasampurnaning agesang kanti nglestantunaken tuntunaning para pepunden saha para leluwur ingkang sampun atetilar kawruh pangertosan tumraping tatacara pangolahing rahsa kang ninemekan mring panembah katujokaken dumateng Pangeran ing pangancas sageta kaleksanan menapa ingkang dados panuwunan kita kaijabahan mring Gusti Pengeran. Kita minangka priyayi jawi tamtu mangertosi bilih sedaya gegayuhan sagetipun kaleksanan kedhah kanti linampahan kanthi ikhtiyar sacara lahir lan ugi secara batos kanthi kajurung pandongga saha panuwunan dumateng Gusti Pengeran. Bilih babagan ikhtiyar lahir saha pandonga dumateng Gusti Pangeran tamtu kita sedaya sampun mangertosi ananging babagan ikhtiyar sacara batos kita kadang kala dereng mangertosi kados pundhitha lampah ingkang sakleresipun kadhos dhene ginambaraken tiyang bade sowan dumateng Ratu Gustinipun dereng mangertosi totocaranipun ingkang kedhahipun marak rumiyin dateng prejurit jaga regal lajeng kalarapaken wonten bangsal mandungan, kaaturaken mring Gusti Patih nembe kaaturaken dumateng Sinuwun Prabu nembe kalilahan menapa mboten sowanipun, bilih mboten kaleresan lampahipun tamtu mboten bade saget pepanggihan kulawan Ratu Gustinipun malah-malah saget pikantuk pidhana. Pramila saking tuwuhing pepinginan saking sakkatahing warga dhaya-dhaya sageta mangertosi tatacara lampah pangolahing batos saengga sagung warga paguyuban anglempak, tukar pemanggih saengga lestantun ngatos wekdhal sakmenika sampun kalampahan  selangkung tahun laminipun. Saking asiling pepanggihan saha tukar pemanggih kewau kalajeng dados gemblenging pemanggih angesti tuntunaning lampah ingkang mijil saking wucalan ndalem suwargi Eyang Kiyai Hadji Khasan Bushori ingkang lenggah wonten Tegal Kemuning Pracimantara Wonogiri, ingkang wekdhal inguni minangka bapa guru kawula, inggih ingkang sinebat kawruh pangertosan waris dhalem Condro Sengkolo ingkang sacara turun tumurun kawedaraken saking Eyang Panembahan Condro Sengkolo. Dhene wontenipun sujarah saking kawruh pangertosan Waris Dhalem Condro Sengkolo samangke badhe kita aturaken piambak. 

Saking asiling kawula nyantrik wonten Tegal Kemuning sewau kawula sarencang sampun kalampah nglestantunaken sedaya kawruh pangertosan kewau ngantos wekdhal sakmenika kanthi kajumbuhaken mring pemanggih-pemanggihipun sagung para warga saengga taksih sreg kalampahaken. saengga paklempakan kita menika taksih lestantun. Lampah tirakat, lampah pandonga, ujub ngantos pangolahing lampah batos ingkang sakelangkung lebet sampun kita lampahi sedaya, wiwit saking pangertosan pangolahing raga njaba, kawruh madya ugi pangolahing serat jiwa ugi sampun sedaya kita trepaken. 

Manpangat saha asiling saking lampah kita sampun katah para warga ingkang ngraosaken kados pundhi saget kaijabahan gegayuhanipun, kados pundhi saget tumoto pagesanganipun, tentrem ayem manahipun ugi sakelangkung cinaket mring Gusti Pengeranipun saenggo mboten wonten icalipun para pepunden ugi para leluwur ingkang sampun amarisaken kawruh pangertosan menika dumateng kita.

Mugi kasuwun sedaya kesaenan menika sageta lestantun teras dumugi anak putu kita sedaya manpangat lan barokahipun lumutura saklamipipun .... Aminn.